Gila, Wanita Ini Raih Untung Rp 1,1 Miliar Dari Bisnis Kerajinan

Kisah sukses kali ini menceritakan tentang perjalanan karir Dewi Tanjung Sari yang mampu meraup miliaran rupiah dari bisnis kerajinan. Wanita berusia 33 tahun ini merupakan tipe orang yang gigih dan mampu menyikapi segala keadaan sekreatif mungkin. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya, Dewi akan melakukan berbagai cara demi memperjuangkan cita-citanya sebagai pewirausaha sukses.Sejak awal kuliah, wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Program Diploma III Universitas Brawijaya Malang ini memulai usahanya. Karena berbagai hambatan, ia melanjutkan studinya di jurusan yang sama di IKIP Budi Utomo.

Sejak kecil Dewi harus menerima kenyataan sebagai seorang anak yatim. Meski demikian, anak semata wayang ini sudah terlatih untuk hidup mandiri. Ibunya yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga selalu memberikan dorongan semangat agar nantinya Dewi tumbuh menjadi anak yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Desakan ekonomi membuatnya tertantang untuk mencari uang sejak usia anak-anak. Diawali dengan membantu ibunya di warung hingga berjualan kecil-kecilan untuk biaya hidup dan kuliah.

Kerja kerasnya patut diacungi jempol, sepulang kuliah Dewi menyempatkan diri mencari dedaunan kering atau sampah yang berserakan di area kampus untuk selanjutnya disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis. Ada diantaranya pigura foto, kotak pensil, undangan dan bentuk kerajinan lainnya. Ternyata usaha dengan modal 50 ribu ini laris manis di pasaran. Bahkan produk kerajinannya ini pernah dipamerkan di kampusnya dan terjual habis.

Tahun 2005 menjadi tahun keberuntungan Dewi setelah bertemu dengan eksportir produk-produk kerajinan yang terbuat dari berbagai limbah. Ia pun kebanjiran pesanan. Disinilah titik awal perkembangan usahanya. Produk tak lagi ia kerjakan sendiri. Karena permintaan yang cukupbanyak, Dewi melibatkan 16 orang karyawan lepas yang tak lain adalah para tetangganya sendiri.

Hambatan lumrah terjadi dalam perjalanan sebuah bisnis. Di luar dugaan, tahun 2007 perusahaan eksportir yang biasa memesan produk kerajinannya ternyata mengalami kebangkrutan. Dewi pun berpikir keras bagaimana caranya usaha yang terlah dirintisnya bisa terus berlanjut. Ia memutuskan untuk menghentikan kegiatan produksi untuk sementara waktu. Produk ia pasarkan sendiri ke berbagai temannya. Ia juga memajang produk di warung ibunya. Sempat ada waktu itu pengunjung warung yang tertarik dengan salah satu produk hasil karya Dewi. Tak tanggung-tanggung, pengunjung itu memesan sebanyak 750 pcs dengan harga Rp1.500/pcs yang akan digunakan sebagai souvenir pernikahan.

Melihat peluang tersebut, Dewi akhirnya menyiapkan produk souvenir atau merchandise dan memberinya label “De Tanjung”. Produk ia titipkan ke Gramedia, pusat-pusat kerajinan dengan sistem penjualan kosinyasi. Ia juga rajin menghadiri berbagai event seperti fashion show dan wedding expo karena saat itulah waktu yang tepat untuk memperkenalkan brand produknya.

Bukan Dewi kalau menyerah pada keadaan. Ia tidak ada henti-hentinya memperluas skala bisnisnya tersebut. Demi mengembangkan usahanya, Dewi memilih cara untuk mem-franchise-kan De Tanjung. Sebagian besar rekan mitranya berasal dari Malang, Cirebon, Bekasi, Palu, Bontang, bahkan Papua. Omzet menggiurkan, dari Rp 650 ribu di tahun 2008 melonjak tajam menjadi Rp 935 juta di tahun 2009. Bahkan tahun 2010 terhitung omzet sebesar Rp 1,1 miliar dengan laba bersih Rp 273 juta berhasil ia kantongi.

Related posts

Leave a Comment